PENGUNGKAPAN JATI DIRI
DENGAN AURA MANUSIA MELALUI WARNA PRIBADI
Sejak lama sudah diduga dan dipercaya bahwa ada cahaya yang memancar keluar di sekitar objek. Subyek bisa berupa makhluk hidup, seperti manusia atau hewan, maupun benda mati, seperti bunga atau batu. Pancaran cahaya demikian dinamakan aura. Tidak semua orang dapat melihat aura. Hanya pakar aura atau cenayang yang mampu melihatnya.
Pada awalnya yang mempelopori penelitian dan pembuktian aura adalah Baron von reichenbach yang menerbitkan buku tentang aura di abad pertengahan. Dimana ia mengaku telah berhasil melihat pancaran cahaya melalui batu kristal dan magnet. Tentu saja, hal tersebut tidak dapat dipercayai saat baru pada tahun 1911 keberadaan aura atau pancaran cahaya dapat dibuktikan secara ilmiah. Kala itu Dr. Kilner dari Inggris berhasil memperlihatkan bahwa semua orang bias melihat aura dari makhluk hidup dengan slide kaca yang terbuat dari ter atau dicyanin. Dimana subjek eksperimen ditempatkan di depan kain putih dalam ruang yang gelap. Subjek harus dalam keadaan setengah telanjang karena aura tidak bias dilihat melalui pakaian. Aura terdiri dari beberapa lapisan yang diawali dari lapisan paling dalam yang menyentuh subjek. Aura ini memiliki bentuk dan warna yang berlainan.
Dengan layar yang diciptakan oleh Dr. Kilner. Ketiga lapisan dapat dilihat dengan jelas. Lapisan pertama disebut etheric double. Lapisan kedua dinamakan inner aura, yang lebarnya sekitar 3 inci. Di luar lapisan ini disebut outer aura, yang memanjang dari inner aura sekitar 6 inci. Sebelum akhirnya memudar.
Bentuk dan warna aura dari setiap individu berlainan, bahkan pada individu yang sama pun berbeda. Hal ini terjadi karena pengaruh dari keadaan kesehatan, perubahan mental dan kondisi fisik.
Sebagian besar cenayang sepakat bahwa warna aura menandai kondisi fisikal, mental dan spiritual. Di bawah ini rincian kondisi dari beberapa warna aura :
WARNA RINCIAN KONDISI & INTERPRESTASI
Hitam : kebencian, dendam dan amarah
Merah : kemarahan dan sensualitas
Cokelat : ketamakan dan keegoisan
Cokelat kehijauan : kecemburuan
Abu – abu : depresi mendalam dan rasa takut
Merah tua : cinta
Orange : kebanggaan atau ambisi
Kuning : intelektualitas dan kualitas egoisme
Hijau : simpati, kebohongan dan kelicikan
Biru tua : perasaan religius
Biru muda : kesetiaan dan spiritualisme
Putih : spiritualitas tinggi
Kuning pudar : kasih sayang yang egois dan serakah
Merah cerah : kasih sayang murni
Hijau keabuan : kebohongan
Mudah dipahami bahwa kombinasi dari warna aura sungguh tidak terbatas, sehingga menciptakan variasi interprestasi yang banyak pula. Tapi justru dalam konteks inilah aura membuka peluang untuk mengenali individu melalui jati dirinya, khususnya dalam aspek emosional, mental dan spiritual.
DENGAN AURA MANUSIA MELALUI WARNA PRIBADI
Sejak lama sudah diduga dan dipercaya bahwa ada cahaya yang memancar keluar di sekitar objek. Subyek bisa berupa makhluk hidup, seperti manusia atau hewan, maupun benda mati, seperti bunga atau batu. Pancaran cahaya demikian dinamakan aura. Tidak semua orang dapat melihat aura. Hanya pakar aura atau cenayang yang mampu melihatnya.
Pada awalnya yang mempelopori penelitian dan pembuktian aura adalah Baron von reichenbach yang menerbitkan buku tentang aura di abad pertengahan. Dimana ia mengaku telah berhasil melihat pancaran cahaya melalui batu kristal dan magnet. Tentu saja, hal tersebut tidak dapat dipercayai saat baru pada tahun 1911 keberadaan aura atau pancaran cahaya dapat dibuktikan secara ilmiah. Kala itu Dr. Kilner dari Inggris berhasil memperlihatkan bahwa semua orang bias melihat aura dari makhluk hidup dengan slide kaca yang terbuat dari ter atau dicyanin. Dimana subjek eksperimen ditempatkan di depan kain putih dalam ruang yang gelap. Subjek harus dalam keadaan setengah telanjang karena aura tidak bias dilihat melalui pakaian. Aura terdiri dari beberapa lapisan yang diawali dari lapisan paling dalam yang menyentuh subjek. Aura ini memiliki bentuk dan warna yang berlainan.
Dengan layar yang diciptakan oleh Dr. Kilner. Ketiga lapisan dapat dilihat dengan jelas. Lapisan pertama disebut etheric double. Lapisan kedua dinamakan inner aura, yang lebarnya sekitar 3 inci. Di luar lapisan ini disebut outer aura, yang memanjang dari inner aura sekitar 6 inci. Sebelum akhirnya memudar.
Bentuk dan warna aura dari setiap individu berlainan, bahkan pada individu yang sama pun berbeda. Hal ini terjadi karena pengaruh dari keadaan kesehatan, perubahan mental dan kondisi fisik.
Sebagian besar cenayang sepakat bahwa warna aura menandai kondisi fisikal, mental dan spiritual. Di bawah ini rincian kondisi dari beberapa warna aura :
WARNA RINCIAN KONDISI & INTERPRESTASI
Hitam : kebencian, dendam dan amarah
Merah : kemarahan dan sensualitas
Cokelat : ketamakan dan keegoisan
Cokelat kehijauan : kecemburuan
Abu – abu : depresi mendalam dan rasa takut
Merah tua : cinta
Orange : kebanggaan atau ambisi
Kuning : intelektualitas dan kualitas egoisme
Hijau : simpati, kebohongan dan kelicikan
Biru tua : perasaan religius
Biru muda : kesetiaan dan spiritualisme
Putih : spiritualitas tinggi
Kuning pudar : kasih sayang yang egois dan serakah
Merah cerah : kasih sayang murni
Hijau keabuan : kebohongan
Mudah dipahami bahwa kombinasi dari warna aura sungguh tidak terbatas, sehingga menciptakan variasi interprestasi yang banyak pula. Tapi justru dalam konteks inilah aura membuka peluang untuk mengenali individu melalui jati dirinya, khususnya dalam aspek emosional, mental dan spiritual.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar